lundi 6 juillet 2009
YOU KNOW WHAT? THIS IS JUST TOO GOOD
perpisahan dgn tmn2 sedih bgt, nangis2 dikit, sama hostfam biasa aja. hostmum gue masih brengki ngeselin abis shitty deh ntar gue ceritain males gue ngomongin dia lg sensng2 gini haha
so skrg gue lg di Bollene di hostfamnya tmn gue namanya eva, dr islandia. and it is great! ada swimming pool, gue brng, ikutan sun bathing (gatau diri udah negro haha), ada tv lenglap dgn cable dan audio sistem, tvnya juga gede haha ada PS 3, ada Wii, internet ada, keluarganya sumpah oke abis, ada bocah lucu bgt uur 5taun. tmn gue si eva juga baik bgt. dan gak ada waktu2 shitty dan crappy kayak dulu gue brg si hostmum rese gue itu haha
anyhoo gue mau liburan lagi ya!
flight gue nyampe kam 10.10 wib di sukarno hatta tgl 13; so see you when i see you :)
dimanche 14 juin 2009
these few last days..
After Jacky Day (where we can wear anything to school, and obviously we made such a mess at school) school was unofficialy ended, we didnt have many lessons left, and most student didnt come to school. I did, tho. I had classes, it was just like the other days. On wednesday me and my classmates did a kind of picnic with cookies and LOTS of cherries, then Thursday we went to the cinema watching a spanish movie from the Cannes Festival with Penelope Cruz in it. Weird movie, it was long and seemed to be never ending, and it had many naked and sex scenes too. bah. Then Friday we went to the park, and did another picnic. It was really nice, even though i got seriously tanned.
So friday was the last day at school. i thought i wouldnt cry- i didnt think i could even feel sad. but then i was wrong. i did cry. i hugged my friends, my classmates. i was really close to tears only last italian class when my teacher looked at me in the eyes and told me that it has been a great year with me, and that she thinks that i'm such a nice student. gosh no teacher ever told me that way. and later on me and my friends sat on the bench until 5pm, just doing nothing and cherishing the moment. then i went to the school ball, met some other friends, danced and talked. although there wasnt may people (only like 200 peep) it was pretty nice (and my hot guy wasnt there. anw, i KNOW his NAME. great. it's Paul). the bands are pretty lame, but the dj made it okay. then i went home at midnight and before that i hugged my friends that i thought i couldnt meet again, like Sonia and Nils and else. fuh i hate saying goodbye.
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 10)
Ya, hidup itu indah. Kemana saja saya dulu? Mungkin dulu saya terlalu terfokus pada satu hal, sehingga melupakan hal-hal indah di sekitar saya. Mungkin dulu saya terlalu terikat pada pacar saya sehingga menyampingkan orang-orang baik disekitar saya yang tak akan pergi meninggalkan saya. Mungkin dulu saya hampir tak pernah berpikiran positif. Mungkin dulu saya terlalu menutup diri. Entahlah, yang dulu sudah tidak penting lagi. Yang penting sekarang adalah menikmati hidup saya yang menakjubkan ini.
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 9)
Liburan musim semi saya menjadi sangat berarti, saya menggunakan kesempatan sortie program saya untuk ke Paris dan bertemu orang tua saya. Sejalan dengan apa yang dikatakan pihak AFS, saya takut tidak bisa 'kembali' lagi nantinya ke kehidupan disini setelah menghabiskan waktu bersama keluarga asli, namun saya juga tidak bisa menolak ajakan orang tua saya untuk keliling eropa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengiyakan rencana mereka, dan menghabiskan liburan dua minggu saya di luar Thonon. Beberapa hari pertama saya di Paris, saya tinggal bersama keluarga tante saya. Saya pergi menjelajahi Paris bersama teman yang kebetulan ada disana, Suta namanya. Saya juga pergi bermain di Disneyland Paris! Saat orangtua saya datang, perjalanan besar kami dimulai. Kami mengunjungi beberapa kota di Belanda, lalu ke Belgia, Luxemburg, Venise, Nice, dan Monaco. Perjalanan berakhir di Geneve dan Thonon, dimana orangtua saya bertandang ke rumah keluarga angkat saya. Pertemuan dua keluarga yang berlangsung dengan hangat, tidak seperti yang saya takutkan. Satu hal yang saya sadari, ternyata kemampuan bahasa itu sangat berguna ya? Saya beruntung bisa bahasa Perancis dan Inggris, bahkan saat di Italia pun saya bisa menanyakan jalan dengan bahasa lokal. Saya sangat senang ternyata pelajaran di sekolah bisa berguna juga! Sayangnya saya tidak bisa bahasa Jerman sama sekali, padahal saya belajar bahasa Jerman sudah tiga tahun. Diakhir perjalanan, saya baru ngeh betapa saya merindukan orangtua saya dengan semua kebiasaannya. Saya menyadari kalau saya butuh mereka, dan saya sangat sayang mereka. Saya harus jadi anak yang lebih baik nantinya saat kembali ke Jakarta! Oh iya, di liburan musim semi ini, akhirnya saya putus dengan pacar saya lho.
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 8)
Ah, bicara tentang keluarga angkat, saya akui hingga saat ini saya belum benar-benar dekat layaknya keluarga. Entah mengapa saya masih merasakan adanya sebuah batasan antara kami, namun hal itu bukanlah suatu yang menjadi masalah besar. Ibu angkat saya terus mempertanyakan mengapa saya jarang bicara di rumah. Saya bingung, saya harus bicara pada siapa atau mengenai apa. Keluarga kami hanya lengkap saat akhir pekan, dan bilapun ada Caroline, kakak angkat saya, dan Genevieve, sang ibu, saya pun jarang bicara. Saya bingung harus membicarakan apa. Kalau saya bicara tentang American Idol atau Gossip Girl yang selalu saya ikuti setiap episodenya, mereka tak akan mengerti. Atau jika saya bicara tentang Formula Satu serta pembalap favorit saya, Lewis Hamilton, mereka pasti bingung. Mereka bicara tentang ski dan hal-hal yang tidak begitu saya pahami. Dengan Renaud, ayah angkat saya, saya relatif lebih mudah bicara jika kami sedang makan berdua. Entah mengapa bicara dengannya terasa lebih mudah dan santai. Jujur hingga saat ini, ada sesuatu yang membuat saya jauh dengan ibu angkat saya, namun saya sendiri tidak mengerti mengapa saya merasa kurang nyaman berada bersamanya. Kadang-kadang saya merasa ia tidak menyukai saya atau kadang-kadang ia menganggap saya bodoh sehingga harus menjelaskan hal-hal kecil berulang-ulang kali, atau apakah memang itu hanya sentimen pribadi saya? Tapi seperti koin yang punya dua sisi, ketidakbegitudekatan ini membuat saya menyadari bahwa keluarga itu begitu penting buat saya. Saya selama ini hanya mengeluh tentang keluarga saya yang banyak masalah, yang nampaknya tidak sesempurna seperti teman-teman saya yang lain, namun nyatanya keluarga terbaik yang pernah diciptakan buat saya adalah keluarga biologis saya sendiri. Seperti pepatah yang terkenal, “you'll never know what you've got 'til it's gone”, saya baru menyadari bahwa saya butuh Mama, Papa, Pabas, Nenek, Kakek dan seluruh keluarga saya.
vendredi 5 juin 2009
che casino!
anw, i had Jacky Day today, it was a lot of fun! and i saw that hot guy, he wore an old lady dress and still put a hat and another Louis Vitton bag (i wonder how many LV bags he has, since he use them almost everyday to school) and then i saw him wearing a normal glasses, with rectangle lenses, that guy couldnt be any hotter trust me.
lots to tell, but i cant write right now, i'm too pissed off. seriously. I wrote my stories with all those details about UK and EU and else, and theyre gone. merde
see ya
xoxoxo
i hope i could find where my data has gone :(
lundi 1 juin 2009
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part7)
Febuari, bulan keenam saya, datang, dan entah mengapa saya merasa hidup saya mulai berbeda, menjadi lebih menyenangkan. Saya mulai dekat dengan teman-teman sekelas saya, bahkan partner saya di kelas eksperimen IPA, Rachel namanya, dengan senang hati “membawa” saya ke dalam lingkup pertemanannya. Menemukan teman-teman dekat baru cukup menghibur saya dari kehilangan Landon, sahabat terdekat saya saat itu, yang harus kembali ke negaranya. Saya dan Eliott lalu kedatangan seorang murid asing lainnya, Chantelle, dari Selandia Baru. Hari paling spesial di bulan Febuari pun datang. Tanggal sebelas, yang merupakan ulang tahun saya yang ke-delapan belas. Mengetahui saya tidak punya rencana apapun untuk merayakan hari jadi tersebut, teman-teman saya berinisiatif membuatkan sebuah pesta kecil-kecilan di Pegunungan Alpen. Wow! Perayaan tersebut membuat saya semakin dekat dengan mereka, dan untuk pertama kalinya saya merasa 'diinginkan' sebagai teman oleh penduduk asli, bukan hanya sebagai objek yang menarik karena berasal dari negara lain ataupun perasaan kasihan. Saya merasa diterima, perasaan yang sudah sekian lama saya rindukan.
Bulan Febuari saya berlanjut dengan liburan musim dingin di Grenoble. Saya tidak pergi dengan keluarga angkat saya, mereka semua sibuk bermain ski, sementara saya tidak tertarik sama sekali dengan olahraga salju tersebut. Saya berangkat ke Grenoble sendiri, mengunjungi Segolene, teman sekaligus koresponden saya di AFS yang tahun lalu tinggal di Makassar. Liburan lima hari saya sangat menyenangkan! Kota besar, pusat perbelanjaan, pemandangan indah, makanan enak, hidup bebas layaknya mahasiswa, dan bicara bahasa sendiri! Setelah liburan berakhir, saya harus kembali ke sekolah, namun kali ini saya sudah berubah, saya memutuskan untuk merasa bahagia dengan kehidupan saya. Febuari adalah awal dari perjalanan saya yang “baru”.
Sebuah pelajaran penting yang merubah pola pikir saya dalam memandang hidup sebenarnya hanyalah hal kecil yang semua orang sudah tahu, yaitu bersyukur. Selama ini saya hanya memandang hidup dari sisi negatif sehingga saya selalu dapat menemukan kekurangan dari semua hal. Padahal saya seharusnya sangat amat bersyukur dengan keadaan saya sekarang, karena saya begitu beruntung. Saya punya keluarga angkat tetap yang baik, walaupun kami tidak begitu dekat, namun tidak ada yang salah dengan mereka. Teman saya yang lain ada yang harus sampai 5 kali ganti keluarga, dan ada pula yang ibu angkatnya sangat menyebalkan layaknya ibu-ibu jahat yang diperankan Leily Sagita dalam sinetron tengah hari. Saya tinggal di Eropa dan bisa belajar bahasa asing selain bahasa Ingris, lagipula saya tidak kehilangan kesempatan belajar bahasa Inggris disini, teman-teman dekat saya, Chantelle dan Landon, mereka semua bicara bahasa Inggris. Teman-teman saya yang lain, mereka semua begitu baik pada saya, satu hal lagi yang harus saya syukuri. Tuhan sangat sayang saya, kenapa saya lupa hal itu?
jeudi 28 mai 2009
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 6)
Semua keluhan saya tersebut kembali membawa saya kepada keresahan, ketakutan, dan kebingungan saya dahulu. Apa yang sebenarnya saya lakukan disini? Mengapa yang saya alami sekarang tidak seindah apa yang teman-teman saya ceritakan dulu? Mengapa teman-teman saya yang lain bisa terlihat begitu bahagia di foto-foto facebooknya? Mengapa saya ada di Perancis? Mengapa saya tidak bisa ke Amerika dan menikmati masa-masa SMA seperti yang saya lihat di film-film? Dan masih banyak keluhan serta keirian yang timbul di benak saya.
Akhirnya saya sadar, saya kesepian, dan saya ingin kembali populer. Saya bukannya ingin jadi bintang sekolah atau gadis populer seperti di sinetron remaja, saya hanya ingin kembali mempunyai kehidupan sosial seperti saat saya di Jakarta dulu. Saya ingin dikelilingi orang-orang yang bukan termasuk golongan “aneh”, bukan karena malu bersama mereka, namun karena kami 'berbeda'. Saya ingin punya teman-teman yang menyenangkan dan bisa diajak bersenang-senang. Saya ingin dikenal dan disapa orang. Saya butuh teman. Teman saya di Norwegia, Ajay namanya, menyarankan untuk tampil lebih modis dan memberanikan diri untuk mendekati orang-orang yang ingin saya jadikan teman. Ya, saya harus kembali menelan perasaan rendah diri saya dan mulai berusaha. Saat itu saya mulai sadar, keberadaan saya disini tidak akan menghasilkan apa-apa kalau saya tidak mau berusaha untuk hidup bahagia, dan saya harus mulai dari diri saya sendiri.
Saya tidak lagi mengharapkan orang lain tersenyum dan menyapa saya di koridor, melainkan saya yang menyapa orang lain terlebih dahulu. Saya memberanikan diri untuk bergabung dengan teman-teman baru. Saya berusaha untuk berpenampilan lebih menarik. Saya berusaha untuk lebih belajar bahasa Perancis. Singkat cerita, akhirnya saya menemukan teman-teman yang saya inginkan, yang bisa saya ajak tertawa bersama, mengobrol bersama, dan banyak hal lainnya. Namun yang paling penting adalah, dalam proses pencarian orang lain itu, saya menemukan diri saya sendiri, Adelia yang sudah lama hilang tenggelam dalam ketakutannya yang absurd. Ya, Adelia yang dulu kini muncul lagi! Adelia yang selalu tersenyum pada semua orang, yang ceria, yang memakai pakaian warna-warni dan bernyanyi sendiri. Dan satu hal lagi, saya tahu bahwa saya bisa melakukan banyak hal kalau saya mau percaya pada diri saya sendiri.
Tahapan pertama saya berakhir dengan cukup menyenangkan. Saya lalu kembali menjalani hidup seperti biasa. Saya mulai menikmati hidup, namun tetap tidak berhenti mengeluh. Entah apa yang ada di pikiran saya, namun saat itu saya terlalu iri pada semua teman-teman saya. Saya masih belum berhenti menjadi turis.
mercredi 27 mai 2009
i should've posted this one yesterday
i went to school this morning wearing my favourite skirt, blue top, and my prettiest shoes. it was cloudy all day, and a lil bit windy. great. i was almost dying of the heat these past days. and after school it was raining. i got off the bus and walked home, the rain was kinda hard. i was all wet. my shoes are wet too. but i love rain. suddenly i wanted to cry. no, i wasnt sad. it's just crying in the rain seems soo dramatic like in movies. okay i know it's weird. i'm weird and i love dramatic things. i even throwed the K part of my necklace to the lake just to make it dramatic if i ever tell it to people, well i did that because i want to get rid of that part also. i wish i could throw that thing into the Seine river, it'd sound better and more dramatic. haha. anyway i still have the A part of the necklace eventhough i'm not wearing it at the moment. However, i dont post this one to tell you about my strange attitude but i want to share some of my random shots.
ciao!
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 5)
Hidup saya di bulan pertama tidak mengalami perubahan yang drastis. Saya dikelilingi oleh banyak orang, yang walaupun saya tidak ingat semua nama mereka. Saya masih berhubungan nyaris setiap hari dengan keluarga dan pacar saya lewat internet. Saya makan nasi hampir setiap hari. Saya mencoba banyak hal baru disini, dari mulai makanan hingga jalan baru di tengah kota. Kalau saya bisa menyingkat hidup saya dalam satu kata, yang akan saya pilih adalah euphoria. Saya merasa sangat senang dan bangga bisa berada di Eropa. Saya senang mendengar perkataan teman-teman saya tentang betapa irinya mereka dengan saya, sementara mereka harus berkutat dengan rumus integral di Jakarta. Saya senang karena makanan disini begitu enak. Saya senang karena ada banyak bule cantik dan ganteng disekitar saya. Saya senang karena saya langsung menjadi murid kesayangan di kelas bahasa Inggris saya. Saya senang karena saya berada di jurusan bahasa, dimana pelajaran matematika mereka sangat mudah sehingga saya yang tidak bisa bahasa Perancis saja bisa langsung mengerjakan soal-soal tersebut dengan lancar. Saya senang karena hampir semua orang menganggap saya spesial, karena saya si murid Asia. Ya, euphoria, bukan?
Minggu demi minggu terus berjalan, dan kepopuleran yang saya nikmati mulai memudar. Orang-orang mulai menganggap saya biasa. Saya bukan lagi sebuah pusat perhatian. Saat itu saya sadar, tahapan euphoria sudah selesai. Saya bukanlah seorang turis, melainkan seorang remaja yang harusnya menjalani kehidupan normal disini. Sayangnya untuk mempunyai 'kehidupan normal' sama sekali tidak mudah. Saat itulah saya mulai mengeluh.
lundi 25 mai 2009
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 4)
Namanya Genevieve. Sejak pertama kali melihatnya secara langsung, saya tahu dia sama sekali bukan tipe wanita seperti mama saya, ataupun tante-tante saya. Cara berpakaiannya saja sudah menggambarkan bahwa dia bukan tipe wanita kota besar ataupun tipe wanita yang sering bersolek. Ibu angkat saya memakai setelan olahraga, saya langsung tahu bahwa dia adalah maniak olah raga. Saya ragu apakah saya nantinya akan cocok atau tidak, karena saya sudah dapat merasakan bahwa saya 180 derajat berbeda dengannya. Bilang saya sombong atau seenaknya menghakimi orang, saya saat itu hanya melihat dari kacamata subjektif seorang anak kota besar.
Akhirnya saya sampai di Thonon les Bains, kota dimana saya akan menghabiskan sebelas bulan kedepan. Saya bertemu keluarga angkat saya. Renaud, sang ayah; Caroline, anak tertua; Oceane, anak kedua; Robin, anak terakhir; dan Laska, anjing kesayangan. Dan benar saja, mereka semua pecinta olahraga. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan menyukai olahraga, hanya saja saya tidak berbakat sama sekali dalam bidang tersebut, dan saya tidak suka jika nantinya saya dipaksa berolahraga keras, saya lebih suka membaca buku, menulis, menggambar, berbelanja atau menonton televisi. Saya tahu, saya adalah tipikal remaja ibukota yang manja, bukan? Untungnya di depan kamar saya ada sebuah piano, dan ternyata Renaud jago sekali bermain piano. Paling tidak saya bisa 'melarikan diri' pada tuts hitam-putih tersebut, dan akan ada lantunan melodi indah yang sering terdengar di dalam rumah.
Senin esoknya, kehidupan saya dimulai. Sekolah.
dimanche 24 mai 2009
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman.. (part 3)
Ya, takut, mungkin sebenarnya itu yang saya rasakan. Panggil saya pengecut, saya tidak akan marah. Saya takut menghadapi kemungkinan yang ada. Saya takut harus memulai suatu kehidupan dari awal, dimana saya tidak punya teman sama sekali yang bisa membantu saya. Saya takut teman-teman saya di Jakarta akan melupakan saya. Saya takut pacar saya akan memutuskan hubungan kami karena masalah jarak dan waktu yang terlalu jauh dan lama, saya takut kehilangan semua yang telah saya jalani bersama dia selama ini. Saya takut kalau ternyata kepergian ini adalah keputusan yang salah. Saya takut pada banyak hal dan saya tidak tahu apapun yang akan terjadi nantinya saat saya tidak ada di Jakarta lagi.
Satu hal yang saya tahu pasti, siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, dan setakut apapun saya, saya harus berangkat. Tiket pesawat sudah dipesan, saya sudah cuti dari SMA Negeri 8, visa sudah di tangan, dan saya tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah mendukung saya selama ini.
9 September 2008, saya berangkat. Tentu saja saya menangis. Handphone saya tidak boleh dibawa.
vendredi 22 mai 2009
bright sunshine and i'm all burned
i went to the 'beach' of Lac Leman on Wednesday. actually the beach is not a real beach. it's just the lakeside and there are some pools, nevertheless that's called a beach here. I finished school at 10, took the bus, and walked down to the lakeside. Then i arrived at the beach, paid the entrance fee, and walked around. it was my first time, so i was pretty much like a tourist. okay bref. than i swam for a moment, bought a super-expensive-panini (I should have brought my own sandwich!) bcos i was starving. then i sat on the ground. nope, i didn't want to have a suntan, I'm black enough you know. so i spent like one hour sitting doing nothing, seeing Switzerland afar, and then went home.
nah, the weird thing is i met my French teacher there. she was lying on the grass wearing swimming suit and eating apple. not that teachers are not allowed to swim, but it was just weird. i mean, you dont picture your teacher in a swimming suit and lying on the grass, do you? thank god it's france. i couldnt imagine seeing my indonesian teachers doing the same thing, it'd be awkward.
then when i was sitting back in the ground, i turned my head and see two nudists. two topless old ladies. i bet you've heard that French beaches are full of nudists. i didn't expect old ladies to be nudists (okay they still wore thongs), it was just weird seeing breasts being shown around. i told chantelle about these things and she said that she probably wont come to the beach, it's gross. but well there's a good thing, the pool guard was smokin' hot. yay. we'll go there next week maybe. anyway overall the beach was awesome, the scenery and ambiance you'll love it :)
okay that's all. now I'm sitting on the window, hoping for a wifi ( i take the neighbor's wifi connection lol), and actually skipping class. i don't have French class today, and i wag my physics class bcos there's a test (i can only come for 2 times per week, so i couldn't do much either. my schedule's a mess.) my next class is at 14h, still have plenty of time :)
bonne journee!
ps. untungnya sekolah disini gratis. jadi ga ada yang protes "udah disekolahin mahal-mahal juga!" haha
jeudi 21 mai 2009
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman.. (part 2)
Kebingungan saya semakin memuncak di akhir kelas 2 SMA saya, saat surat cuti saya sudah didaftarkan pada pihak sekolah, saat saya sudah harus bolak-balik kantor AFS di Kebayoran untuk mengurus dokumen. Kepergian saya sudah hampir pasti, namun saya masih bingung dan resah.
Masa-masa orientasi sebelum kepergian pun dimulai. Saya, Adilla, Riri, Ajay, Nana, dan Hilfi, kami semua akan pergi melalui program AFS, kami dikumpulkan untuk membuat sebuah talent show untuk melepas murid asing yang akan pergi dari Indonesia, sekaligus sebagai debut kami dalam keluarga AFS. Pertunjukan kami berlangsung sukses, dan saya senang karena saya bisa mengenal dekat anak-anak yang tadinya saya tidak kenal dan saya tidak berani untuk dekati. Tenyata mereka tidak semenakutkan yang dulu saya pikir, harusnya saya dulu percaya diri saja untuk berkenalan dan bermain bersama mereka. Mereka semua sama seperti saya, mengapa harus malu? Saat pertunjukan kami usai, saya ingat, ada video yang diputar mengenai murid-murid yang akan pulang tersebut dan tahun yang mereka sudah jalani. Saya terharu, dan hampir menangis. Seorang dari kami berkata, “Gue jadi pengen cepet pergi nih.” Seorang lagi bertanya, “ Taun depan kita bakal kayak gini juga ngga ya?” Saya senang, penasaran, namun tidak tahu harus berkata apa, karena saya masih tenggelam dengan kebingungan dan keresahan saya. Bahkan saat orientasi nasional di akhir Juli 2008, saya masih bertanya-tanya tentang kepergian saya. Saya akui, saya memang menjadi lebih siap dan bersemangat untuk pergi, dan pembekalan serta pembelajaran yang diberikan saat itu sangat berguna bagi saya. Namun entah mengapa, masih tersisa keraguan di dalam benak saya yang belum teratasi.
Saya bertanya pada kakak-kakak yang pernah pergi, pada Dila, pada Elsa, dan pada Kak Elfi. Apakah yang akan saya alami akan sebanding dengan apa yang saya tinggalkan di Jakarta? Apa yang akan saya alami nantinya disana? Apakah saya bisa bahagia nantinya? Apa yang sebenarnya saya cari di Perancis? Apakah setahun di luar negeri itu sangat berharga sampai-sampai saya harus meninggalkan keluarga saya, zona nyaman saya, teman-teman saya, hingga pacar saya? Yang terakhir itu memang agak konyol, tapi saya kan hanya seorang remaja tujuh belas tahun, yang emosinya sangat labil dan terlalu membawa serius masalah percintaan, mungkin saya terlalu banyak membaca novel remaja atau menonton film drama korea.
the world of my own
Am i being authistic? It's like i'm not living in the real world. Although i have social life,i have to admit that most of my life is pretty mush about the internet, facebook and my blogs. I found out that i spend most of my times wondering what to write on my blog post. Weird isnt it? I'm becoming more and more solitaire. I dont know why. I'm not normal.
But i do have life outside, and back home in Jakarta.
I love blabbering around and laughing out loud. Outside.
This house depressed the hell out of me.
I need my friends.
Adieu
skyzophrenic? (hell i dont know how to spell it)
so this was today's dialogue, translated in english.
Hostmum: See, you dont speak at all!
Adelia: Umm, yeah (not sure what to respond)
H: Do you realize that i didnt talk to you these 2 days? It wasnt comfortable for you, right?
A: Yeah.. (i hardly realized that she was doing that actually)
H: And so i am, you didnt talk at all at home. that brings problem to the family! It's not funny anymore (Hey who told you that it's a joke?) You told me that you seldom speak with your parents too, but it's okay with them. But not with me here. Now it's too late. And I know that you really wanna go home now, but that's because of you!
A: Yeah (still dont know what to say)
I dont know. i really dont know.
She was right about going home, i want it, but not bcos i'm having bad times here. Nope. I do really have great times with my FRIENDS. Okay, i admit it, i'm not close with my hostfam. seriously not. i dont know, until know i dont feel like a part of family. they said that i dont wanna talk at all with them. but hell, what should i talk about with them? My break-up with my two year bf and then 2 weeks later he already got a new gf? of course not! Seriously i had no idea what to do. My friends keep telling me to talk and spare times with hostfam. But how can i do that if i'm not comfortable with them, especially with my hostmum! Damn. I dont know. I'm having great times outside, in school, but i hate being at home. I'm okay with my hostdad, i can talk to him, he's way better than my hostmum idk why. But well, if i cant solve this problem, i only have 53 days left anyway. Life sucks in this home.
kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman.. (part 1)
Kisah ini bermula bukan di Bandara Soekarno Hatta di saat saya memasuki pesawat menuju Kuala Lumpur, ataupun di saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Aeroport Charles de Gaulle Paris, namun jauh sebelum itu, sekitar satu setengah tahun sebelumnya, disebuah ruangan kelas XD SMA Negeri 8 Jakarta.
Hari itu beberapa kakak kelas datang ke kelas saya. Saya ingat, saat itu ada kak Amri dan kak Pamung dan mungkin ada kakak yang lain namun saya lupa siapa, yang masuk ke kelas saya,mempromosikan sebuah program yang telah mereka jalani, bersama sebuah organisasi bernama AFS dan Bina Antar Budaya. Mereka memperkenalkan diri dalam berbagai bahasa asing; bahasa Jerman, Inggris yang sangat lancar, dan Perancis. Terus terang saya terpesona, dan sepertinya mereka sangat bangga dan bahagia dengan apa yang telah mereka dapatkan setahun lalu di luar negeri. Saya ingin seperti mereka, dan walaupun saat itu saya belum tahu motivasi saya selain untuk 'coba-coba-siapa-tahu-dapat', saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di seleksi chapter Jakarta. Saya pergi ke Jalan Teuku Umar, dan mengambil formulir bersama teman-teman saya. Pacar saya saat itu sempat marah karena saya tidak memberitahu dia kalau saya mau ikut program seperti ini.
Akhirnya pada suatu hari minggu saya datang ke STBA LIA Pangadegan untuk seleksi pertama, Bahasa Inggris dan Wawasan Umum. Disana ternyata ada banyak sekali murid-murid dari seantero Jakarta, dan saya tahu peluang saya kecil untuk diterima kalau saingan saya banyak sekali, apalagi banyak wajah-wajah jenius yang saya lihat disana. Disaat orang-orang lain sibuk membaca koran bahkan RPUL untuk mempersiapkan diri mengikuti tes, saya malah sibuk mondar-mandir menyapa teman-teman lama yang saya jumpai disana. Saat tes berlangsung, saya bingung. Tes bahasa inggris terbilang membingungkan, tapi saya cukup senang karena ada bagian membuat essay karena saya suka menulis, dan akhirnya hasil essay saya sepertinya mirip dengan buku harian, panjang, namun saya lupa apa yang saya tuliskan dulu. Tes pengetahuan umum saya terbilang kacau, ternyata saya tidak tahu banyak hal! Mana saya tahu lagu Nidji yang jadi soundtrack Heroes di Asia, saya saja belum pernah menonton Heroes saat itu. Parahnya lagi, saya bahkan tidak tahu kalau Sekjen PBB sudah bukan Kofi Annan lagi melainkan orang Korea yang saya tidak tahu siapa namanya sampai sekarang. Tapi Tuhan sayang saya, karena saya lulus seleksi itu.
Saya lalu mengikuti seleksi-seleksi selanjutnya. Disekitar saya selalu ada orang-orang berpenampilan prestigius atau berwajah jenius, namun semua itu bukan masalah, karena saya saat itu bukanlah seorang yang ambisius. Namun sejatinya saat itu saya cukup rendah diri, karena orang-orang disekitar saya sepertinya mudah bersosialisasi, sementara saya terlalu pemalu untuk memulai percakapan dengan orang baru, mereka semua terlihat 'hebat' di mata saya. Saya tahu, pasti di formulir mereka tertulis banyak prestasi akademik maupun non-akademik, tidak seperti formulir aplikasi saya yang saat mengisinya saja saya bingung mau menulis apa. Saya cuma murid biasa yang dikelilingi murid-murid unggulan di sekolah saya yang unggulan pula. Tapi sekali lagi, ah tidak, berkali-kali lebih tepatnya, Tuhan sayang saya, karena saya lulus seleksi-seleksi tersebut.
Bulan puasa 2007, saya diberitahu kalau saya lulus tahap nasional. Saya senang, tapi saat itu saya belum sadar kalau apa yang saya dapatkan saat itu adalah sesuatu yang 'besar'. Saya lalu bertemu teman-teman yang lainnya di kantor Limau, saya masih rendah diri dan pemalu, saya sepertinya hanya bicara pada teman-teman yang sudah saya kenal saat itu, yang berasal dari sekolah saya; Tony, Nana, Ajay, dan Laudy. Anak-anak yang lain entah mengapa, terlihat begitu 'wah' dimata saya.
Ketika ditanya negara mana yang saya inginkan, yang terlontar pertama kali dari mulut saya adalah: “Amerika!” Ya, Amerika. Saya ingin sekali ke Amerika. Amerika adalah impian saya, mungkin saya terlalu banyak menonton film dan serial tv tentang kehidupan remaja di Amerika yang menakjubkan. Pilihan kedua saya adalah Perancis, mungkin karena di Perancis tinggal tante saya dan saya ingin sekali melihat menara Eiffel. Pilihan ketiga saya adalah Jerman, bukan karena saya sudah belajar bahasa Jerman di sekolah, melainkan karena saya ingin menonton pertandingan sepakbola disana dan melihat Oliver Kahn serta Miroslav Klose bertanding. Yang ada dipikiran saya saat itu adalah, setahun ke depan saya akan jalan-jalan, rekreasi, liburan panjang layaknya turis. Mana saya tahu kalau ternyata pertukaran pelajar ini bukan hanya sekedar jalan-jalan.
Saya tidak jadi ke Amerika. Saya dapat ke Perancis.