Affichage des articles dont le libellé est memoirs. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est memoirs. Afficher tous les articles

dimanche 14 juin 2009

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 10)

Liburan berakhir, dan saya harus melanjutkan kehidupan saya. Dua bulan terakhir saya di Thonon. Awalnya memulai kembali kehidupan normal terasa berat, bukan karena saya 'kehilangan' orang tua saya, namun karena alasan yang cukup konyol: patah hati. Tertawa saja, saya tak akan marah. Tapi tenang, kali ini saya bukan lagi remaja cengeng yang dulu. Saya sudah bisa menerima kenyataan dengan lebih mudah. Tahapan patah hati saya hanya berlangsung dua atau tiga minggu, padahal tadinya saya kira bisa sampai berbulan-bulan. Ternyata banyak yang peduli pada saya. Saya tidak sendiri. Saya punya teman-teman yang selalu menghibur saya dan melupakan masalah konyol ini. Teman saya bilang, saya sebenarnya bukan butuh support, melainkan dosis tawa yang tepat. Ya, tertawa dan lebih berpikiran positif. Dan akhirnya saya bisa merasa jauh lebih baik daripada bulan-bulan yang lalu, saya bisa tertawa dan menertawakan beberapa hal yang telah lalu, dan saya kembali mendapat satu pelajaran yang penting: hidup saya ternyata indah.

Ya, hidup itu indah. Kemana saja saya dulu? Mungkin dulu saya terlalu terfokus pada satu hal, sehingga melupakan hal-hal indah di sekitar saya. Mungkin dulu saya terlalu terikat pada pacar saya sehingga menyampingkan orang-orang baik disekitar saya yang tak akan pergi meninggalkan saya. Mungkin dulu saya hampir tak pernah berpikiran positif. Mungkin dulu saya terlalu menutup diri. Entahlah, yang dulu sudah tidak penting lagi. Yang penting sekarang adalah menikmati hidup saya yang menakjubkan ini.

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 9)

Tapi untuk sementara waktu saya punya keluarga lainnya, yaitu teman-teman dan guru di sekolah. Ya, guru! Saya punya dua guru favorit yang kebetulan juga menjadikan saya murid favoritnya. Tidak, saya tidak KKN atau apapun, hanya saja saya begitu menyukai pelajaran mereka sehingga saya merasa harus sedikit berusaha untuk membalas jasa mereka dalam membantu saya. Simbiosis mutualisme. Saya cinta kelas Bahasa Inggris dan Bahasa Italia! Mme.Pangallo, guru Bahasa Inggris saya, begitu perhatian dengan saya. Suatu saat saya pernah sakit dan beliau menanyakan apakah saya baik-baik saja ataukah saya ada masalah. Saya dapat bercerita pada beliau mengenai hal-hal yang mengganggu pikiran saya, tentang teman-teman, tentang kerinduan saya pada rumah. Mme.Collinet, guru Bahasa Italia saya, adalah guru favorit saya sampai saat ini. Beliau begitu ceria, kelasnya selalu semarak, dan caranya mengajar sangat mudah dimengerti. Beliau juga sangat baik hati, pada awal kedatangan saya di kelas bahasa Italia (saya terlambat 2 bulan) ia memberikan saya tambahan agar saya bisa mengejar ketertinggalan. Beliau juga tidak segan-segan menerjemahkan kata-kata yang tidak saya mengerti dalam Bahasa Inggris, karena kemampuan Bahasa Perancis saya masih sangat terbatas. Dengan dua guru yang menyukai saya dan begitu baik, ditambah pula saya memang menggemari pelajaran literatur, bukan hal yang spesial jika saya sering mendapat nilai tinggi.


Liburan musim semi saya menjadi sangat berarti, saya menggunakan kesempatan sortie program saya untuk ke Paris dan bertemu orang tua saya. Sejalan dengan apa yang dikatakan pihak AFS, saya takut tidak bisa 'kembali' lagi nantinya ke kehidupan disini setelah menghabiskan waktu bersama keluarga asli, namun saya juga tidak bisa menolak ajakan orang tua saya untuk keliling eropa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengiyakan rencana mereka, dan menghabiskan liburan dua minggu saya di luar Thonon. Beberapa hari pertama saya di Paris, saya tinggal bersama keluarga tante saya. Saya pergi menjelajahi Paris bersama teman yang kebetulan ada disana, Suta namanya. Saya juga pergi bermain di Disneyland Paris! Saat orangtua saya datang, perjalanan besar kami dimulai. Kami mengunjungi beberapa kota di Belanda, lalu ke Belgia, Luxemburg, Venise, Nice, dan Monaco. Perjalanan berakhir di Geneve dan Thonon, dimana orangtua saya bertandang ke rumah keluarga angkat saya. Pertemuan dua keluarga yang berlangsung dengan hangat, tidak seperti yang saya takutkan. Satu hal yang saya sadari, ternyata kemampuan bahasa itu sangat berguna ya? Saya beruntung bisa bahasa Perancis dan Inggris, bahkan saat di Italia pun saya bisa menanyakan jalan dengan bahasa lokal. Saya sangat senang ternyata pelajaran di sekolah bisa berguna juga! Sayangnya saya tidak bisa bahasa Jerman sama sekali, padahal saya belajar bahasa Jerman sudah tiga tahun. Diakhir perjalanan, saya baru ngeh betapa saya merindukan orangtua saya dengan semua kebiasaannya. Saya menyadari kalau saya butuh mereka, dan saya sangat sayang mereka. Saya harus jadi anak yang lebih baik nantinya saat kembali ke Jakarta! Oh iya, di liburan musim semi ini, akhirnya saya putus dengan pacar saya lho.

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 8)

Matahari semakin lama bersinar, tidak terasa musim semi sudah datang. Saya yang membenci salju sangat menyambut datangnya saat matahari bersinar kembali dan orang-orang bisa memakai baju apapun yang dimau. Datangnya musim semi mengartikan bahwa saya telah melewati musim panas, gugur dan dingin. Datangnya musim semi mengartikan musim panas 2009 akan segera datang. Datangnya musim semi mengartikan bahwa waktu saya sudah hampir habis. Tapi waktu saya belum benar-benar habis, masih ada tiga bulan lagi untuk menyelesaikan apa yang saya sudah mulai disini, dengan diri saya sendiri, kawan-kawan, test bahasa Perancis saya, dengan pelajaran SMA yang sudah harus kembali diingat, dan dengan keluarga angkat saya.

Ah, bicara tentang keluarga angkat, saya akui hingga saat ini saya belum benar-benar dekat layaknya keluarga. Entah mengapa saya masih merasakan adanya sebuah batasan antara kami, namun hal itu bukanlah suatu yang menjadi masalah besar. Ibu angkat saya terus mempertanyakan mengapa saya jarang bicara di rumah. Saya bingung, saya harus bicara pada siapa atau mengenai apa. Keluarga kami hanya lengkap saat akhir pekan, dan bilapun ada Caroline, kakak angkat saya, dan Genevieve, sang ibu, saya pun jarang bicara. Saya bingung harus membicarakan apa. Kalau saya bicara tentang American Idol atau Gossip Girl yang selalu saya ikuti setiap episodenya, mereka tak akan mengerti. Atau jika saya bicara tentang Formula Satu serta pembalap favorit saya, Lewis Hamilton, mereka pasti bingung. Mereka bicara tentang ski dan hal-hal yang tidak begitu saya pahami. Dengan Renaud, ayah angkat saya, saya relatif lebih mudah bicara jika kami sedang makan berdua. Entah mengapa bicara dengannya terasa lebih mudah dan santai. Jujur hingga saat ini, ada sesuatu yang membuat saya jauh dengan ibu angkat saya, namun saya sendiri tidak mengerti mengapa saya merasa kurang nyaman berada bersamanya. Kadang-kadang saya merasa ia tidak menyukai saya atau kadang-kadang ia menganggap saya bodoh sehingga harus menjelaskan hal-hal kecil berulang-ulang kali, atau apakah memang itu hanya sentimen pribadi saya? Tapi seperti koin yang punya dua sisi, ketidakbegitudekatan ini membuat saya menyadari bahwa keluarga itu begitu penting buat saya. Saya selama ini hanya mengeluh tentang keluarga saya yang banyak masalah, yang nampaknya tidak sesempurna seperti teman-teman saya yang lain, namun nyatanya keluarga terbaik yang pernah diciptakan buat saya adalah keluarga biologis saya sendiri. Seperti pepatah yang terkenal, “you'll never know what you've got 'til it's gone”, saya baru menyadari bahwa saya butuh Mama, Papa, Pabas, Nenek, Kakek dan seluruh keluarga saya.

lundi 1 juin 2009

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part7)

Hari hari saya selanjutnya berjalan begitu saja. Saya mulai merasa nyaman dengan kehidupan yang saya jalani disini. Saya pindah jurusan di sekolah, dan bisa berkenalan dengan lebih banyak orang. Saya punya dua sahabat, Landon, yang berasal dari Amerika, dan Eliott dari Meksiko. Emosi saya masih seperti roller-coaster, naik turun. Saat mood saya sedang baik saya sangat senang. Saat liburan tiba dan saya pergi ke Paris dan bertemu keluarga saya serta menara Eiffel, saya sangat terhibur. Namun saat kembali ke Thonon, saya mulai sedih dan bosan kembali kecuali jika saya sedang melakukan sesuatu yang asyik bersama dua sahabat saya itu. Saya kembali melankolis jika teringat hubungan saya dengan pacar saya yang makin blur. Saya mudah marah-marah tidak jelas kalau keluarga saya bertanya macam-macam dan terlalu khawatir serta menasihati saya layaknya anak balita. Tidak ada patokan jelas mengapa saya bisa tersenyum seharian atau merengut seharian. Saya memang aneh. Namun saya memang sering seperti ini saat dulu di Jakarta. Paling tidak saya tahu, saya sudah merasa seperti berada di rumah sendiri. Hal yang cukup baik, bukan?

Febuari, bulan keenam saya, datang, dan entah mengapa saya merasa hidup saya mulai berbeda, menjadi lebih menyenangkan. Saya mulai dekat dengan teman-teman sekelas saya, bahkan partner saya di kelas eksperimen IPA, Rachel namanya, dengan senang hati “membawa” saya ke dalam lingkup pertemanannya. Menemukan teman-teman dekat baru cukup menghibur saya dari kehilangan Landon, sahabat terdekat saya saat itu, yang harus kembali ke negaranya. Saya dan Eliott lalu kedatangan seorang murid asing lainnya, Chantelle, dari Selandia Baru. Hari paling spesial di bulan Febuari pun datang. Tanggal sebelas, yang merupakan ulang tahun saya yang ke-delapan belas. Mengetahui saya tidak punya rencana apapun untuk merayakan hari jadi tersebut, teman-teman saya berinisiatif membuatkan sebuah pesta kecil-kecilan di Pegunungan Alpen. Wow! Perayaan tersebut membuat saya semakin dekat dengan mereka, dan untuk pertama kalinya saya merasa 'diinginkan' sebagai teman oleh penduduk asli, bukan hanya sebagai objek yang menarik karena berasal dari negara lain ataupun perasaan kasihan. Saya merasa diterima, perasaan yang sudah sekian lama saya rindukan.

Bulan Febuari saya berlanjut dengan liburan musim dingin di Grenoble. Saya tidak pergi dengan keluarga angkat saya, mereka semua sibuk bermain ski, sementara saya tidak tertarik sama sekali dengan olahraga salju tersebut. Saya berangkat ke Grenoble sendiri, mengunjungi Segolene, teman sekaligus koresponden saya di AFS yang tahun lalu tinggal di Makassar. Liburan lima hari saya sangat menyenangkan! Kota besar, pusat perbelanjaan, pemandangan indah, makanan enak, hidup bebas layaknya mahasiswa, dan bicara bahasa sendiri! Setelah liburan berakhir, saya harus kembali ke sekolah, namun kali ini saya sudah berubah, saya memutuskan untuk merasa bahagia dengan kehidupan saya. Febuari adalah awal dari perjalanan saya yang “baru”.

Sebuah pelajaran penting yang merubah pola pikir saya dalam memandang hidup sebenarnya hanyalah hal kecil yang semua orang sudah tahu, yaitu bersyukur. Selama ini saya hanya memandang hidup dari sisi negatif sehingga saya selalu dapat menemukan kekurangan dari semua hal. Padahal saya seharusnya sangat amat bersyukur dengan keadaan saya sekarang, karena saya begitu beruntung. Saya punya keluarga angkat tetap yang baik, walaupun kami tidak begitu dekat, namun tidak ada yang salah dengan mereka. Teman saya yang lain ada yang harus sampai 5 kali ganti keluarga, dan ada pula yang ibu angkatnya sangat menyebalkan layaknya ibu-ibu jahat yang diperankan Leily Sagita dalam sinetron tengah hari. Saya tinggal di Eropa dan bisa belajar bahasa asing selain bahasa Ingris, lagipula saya tidak kehilangan kesempatan belajar bahasa Inggris disini, teman-teman dekat saya, Chantelle dan Landon, mereka semua bicara bahasa Inggris. Teman-teman saya yang lain, mereka semua begitu baik pada saya, satu hal lagi yang harus saya syukuri. Tuhan sangat sayang saya, kenapa saya lupa hal itu?

jeudi 28 mai 2009

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 6)

Ada yang pernah bilang pada saya bahwa manusia memang sudah dari sananya tidak pernah puas. Begitu juga saya, walaupun saya belakangan sadar kalau kadar 'ketidakpuasan' saya memang terlalu tinggi. Banyak sekali hal yang saya keluhkan, bahkan saya menempel daftar keluhan saya di dinding kamar saya. Saya punya terlalu banyak waktu luang, dan saya sangat amat bosan. Kota saya terlalu kecil, tidak seperti Jakarta, dan saya tidak bisa menemukan sesuatu yang menarik disini. Saya tidak nyaman dengan teman-teman saya, dan saya tidak mau orang lain menganggap saya bagian dari kelompok mereka, karena saya tahu orang lain banyak menganggap mereka kelompok “aneh” yang selalu berpakaian hitam. Saya tidak suka jurusan saya, saya ingin pindah ke jurusan yang lebih “berarti” buat saya, jurusan IPA. Saya tidak bisa bicara banyak dengan keluarga angkat saya, karena seperti yang saya bilang, kami berbeda. Berat badan saya naik drastis, namun saya tidak bisa berhenti makan. Emosi saya semakin labil. Hubungan saya dengan pacar saya semakin tidak jelas. Saya kesepian. Saya iri pada teman-teman saya yang ada di Amerika dan Jakarta yang nampaknya bahagia selalu.

Semua keluhan saya tersebut kembali membawa saya kepada keresahan, ketakutan, dan kebingungan saya dahulu. Apa yang sebenarnya saya lakukan disini? Mengapa yang saya alami sekarang tidak seindah apa yang teman-teman saya ceritakan dulu? Mengapa teman-teman saya yang lain bisa terlihat begitu bahagia di foto-foto facebooknya? Mengapa saya ada di Perancis? Mengapa saya tidak bisa ke Amerika dan menikmati masa-masa SMA seperti yang saya lihat di film-film? Dan masih banyak keluhan serta keirian yang timbul di benak saya.

Akhirnya saya sadar, saya kesepian, dan saya ingin kembali populer. Saya bukannya ingin jadi bintang sekolah atau gadis populer seperti di sinetron remaja, saya hanya ingin kembali mempunyai kehidupan sosial seperti saat saya di Jakarta dulu. Saya ingin dikelilingi orang-orang yang bukan termasuk golongan “aneh”, bukan karena malu bersama mereka, namun karena kami 'berbeda'. Saya ingin punya teman-teman yang menyenangkan dan bisa diajak bersenang-senang. Saya ingin dikenal dan disapa orang. Saya butuh teman. Teman saya di Norwegia, Ajay namanya, menyarankan untuk tampil lebih modis dan memberanikan diri untuk mendekati orang-orang yang ingin saya jadikan teman. Ya, saya harus kembali menelan perasaan rendah diri saya dan mulai berusaha. Saat itu saya mulai sadar, keberadaan saya disini tidak akan menghasilkan apa-apa kalau saya tidak mau berusaha untuk hidup bahagia, dan saya harus mulai dari diri saya sendiri.

Saya tidak lagi mengharapkan orang lain tersenyum dan menyapa saya di koridor, melainkan saya yang menyapa orang lain terlebih dahulu. Saya memberanikan diri untuk bergabung dengan teman-teman baru. Saya berusaha untuk berpenampilan lebih menarik. Saya berusaha untuk lebih belajar bahasa Perancis. Singkat cerita, akhirnya saya menemukan teman-teman yang saya inginkan, yang bisa saya ajak tertawa bersama, mengobrol bersama, dan banyak hal lainnya. Namun yang paling penting adalah, dalam proses pencarian orang lain itu, saya menemukan diri saya sendiri, Adelia yang sudah lama hilang tenggelam dalam ketakutannya yang absurd. Ya, Adelia yang dulu kini muncul lagi! Adelia yang selalu tersenyum pada semua orang, yang ceria, yang memakai pakaian warna-warni dan bernyanyi sendiri. Dan satu hal lagi, saya tahu bahwa saya bisa melakukan banyak hal kalau saya mau percaya pada diri saya sendiri.

Tahapan pertama saya berakhir dengan cukup menyenangkan. Saya lalu kembali menjalani hidup seperti biasa. Saya mulai menikmati hidup, namun tetap tidak berhenti mengeluh. Entah apa yang ada di pikiran saya, namun saat itu saya terlalu iri pada semua teman-teman saya. Saya masih belum berhenti menjadi turis.

mercredi 27 mai 2009

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 5)

Hari-hari pertama saya disekolah terasa menyenangkan. Bagaimana tidak, saya bagaikan bintang. Semua orang ingin berkenalan dengan saya, si anak pertukaran pelajar dari Asia. Saya satu-satunya perempuan dari 4 murid pertukaran di Lycee de la Versoie, sekolah saya. Saya tidak bisa bahasa Perancis sama sekali, dan orang-orang berlomba-lomba untuk bicara pada saya dalam bahasa Inggris. Saya tidak merasa kesepian, karena selalu ada banyak orang yang mau menemani saya. Masalah bahasa tidak begitu mengganggu, karena saya selalu bisa membalas perkataan orang lain dengan senyuman atau anggukan, dan mereka pun terlihat senang bisa berbahasa Inggris dengan saya.

Hidup saya di bulan pertama tidak mengalami perubahan yang drastis. Saya dikelilingi oleh banyak orang, yang walaupun saya tidak ingat semua nama mereka. Saya masih berhubungan nyaris setiap hari dengan keluarga dan pacar saya lewat internet. Saya makan nasi hampir setiap hari. Saya mencoba banyak hal baru disini, dari mulai makanan hingga jalan baru di tengah kota. Kalau saya bisa menyingkat hidup saya dalam satu kata, yang akan saya pilih adalah euphoria. Saya merasa sangat senang dan bangga bisa berada di Eropa. Saya senang mendengar perkataan teman-teman saya tentang betapa irinya mereka dengan saya, sementara mereka harus berkutat dengan rumus integral di Jakarta. Saya senang karena makanan disini begitu enak. Saya senang karena ada banyak bule cantik dan ganteng disekitar saya. Saya senang karena saya langsung menjadi murid kesayangan di kelas bahasa Inggris saya. Saya senang karena saya berada di jurusan bahasa, dimana pelajaran matematika mereka sangat mudah sehingga saya yang tidak bisa bahasa Perancis saja bisa langsung mengerjakan soal-soal tersebut dengan lancar. Saya senang karena hampir semua orang menganggap saya spesial, karena saya si murid Asia. Ya, euphoria, bukan?

Minggu demi minggu terus berjalan, dan kepopuleran yang saya nikmati mulai memudar. Orang-orang mulai menganggap saya biasa. Saya bukan lagi sebuah pusat perhatian. Saat itu saya sadar, tahapan euphoria sudah selesai. Saya bukanlah seorang turis, melainkan seorang remaja yang harusnya menjalani kehidupan normal disini. Sayangnya untuk mempunyai 'kehidupan normal' sama sekali tidak mudah. Saat itulah saya mulai mengeluh.

lundi 25 mai 2009

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman... (part 4)

Setelah dua hari perjalanan, saya sampai di Paris. Ya, saya tidak bercanda, perjalanan saya makan waktu dua hari. Pesawat saya rusak di tengah jalan sehingga perjalanan saya terhambat dan saya juga harus menginap satu malam di Kuala Lumpur International Airport. Impian saya untuk melihat kota Paris dan menara Eiffel belum dapat terwujud, karena saya ternyata hanya dijadwalkan singgah di Paris untuk tidur lalu pergi keesokan paginya. Sore keesokan harinya, saya sampai di Tain, dimana ibu angkat saya menjemput saya.

Namanya Genevieve. Sejak pertama kali melihatnya secara langsung, saya tahu dia sama sekali bukan tipe wanita seperti mama saya, ataupun tante-tante saya. Cara berpakaiannya saja sudah menggambarkan bahwa dia bukan tipe wanita kota besar ataupun tipe wanita yang sering bersolek. Ibu angkat saya memakai setelan olahraga, saya langsung tahu bahwa dia adalah maniak olah raga. Saya ragu apakah saya nantinya akan cocok atau tidak, karena saya sudah dapat merasakan bahwa saya 180 derajat berbeda dengannya. Bilang saya sombong atau seenaknya menghakimi orang, saya saat itu hanya melihat dari kacamata subjektif seorang anak kota besar.

Akhirnya saya sampai di Thonon les Bains, kota dimana saya akan menghabiskan sebelas bulan kedepan. Saya bertemu keluarga angkat saya. Renaud, sang ayah; Caroline, anak tertua; Oceane, anak kedua; Robin, anak terakhir; dan Laska, anjing kesayangan. Dan benar saja, mereka semua pecinta olahraga. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan menyukai olahraga, hanya saja saya tidak berbakat sama sekali dalam bidang tersebut, dan saya tidak suka jika nantinya saya dipaksa berolahraga keras, saya lebih suka membaca buku, menulis, menggambar, berbelanja atau menonton televisi. Saya tahu, saya adalah tipikal remaja ibukota yang manja, bukan? Untungnya di depan kamar saya ada sebuah piano, dan ternyata Renaud jago sekali bermain piano. Paling tidak saya bisa 'melarikan diri' pada tuts hitam-putih tersebut, dan akan ada lantunan melodi indah yang sering terdengar di dalam rumah.

Senin esoknya, kehidupan saya dimulai. Sekolah.

dimanche 24 mai 2009

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman.. (part 3)

Keluarga saya begitu bersemangat menyiapkan keberangkatan saya, sementara saya masih datar-datar saja. Kakek saya sampai bertanya, “Sebenernya kamu mau mau pergi apa ngga sih? Ngga gampang lho buat nyiapin keberangkatan kamu ini. Keliatannya kamu biasa-biasa aja, malah kayak males-malesan.” Blek. Saya saat itu hanya bisa berkata iya, toh tidak mungkin saya menceritakan kegundahan saya pada kakek saya, saya tidak mau membuat beliau sedih atau ikut bingung bersama saya karena kakek saya adalah orang yang paling mendukung saya selama ini. Saya tahu, keluarga saya sudah berbuat banyak untuk kepergian saya. Saya tahu seharusnya saya tidak perlu ragu, karena ada ratusan anak di luar sana yang menginginkan tempat saya sekarang. Saya tahu seharusnya saya merasa sangat beruntung. Saya tahu harusnya saya sangat bersemangat seperti teman-teman saya yang lain. Sebagian diri saya sangat ingin pergi melihat dunia dan mengalami kehidupan baru, namun sebagian diri saya yang lain masih berenang dalam kebingungan dan ketakutan.

Ya, takut, mungkin sebenarnya itu yang saya rasakan. Panggil saya pengecut, saya tidak akan marah. Saya takut menghadapi kemungkinan yang ada. Saya takut harus memulai suatu kehidupan dari awal, dimana saya tidak punya teman sama sekali yang bisa membantu saya. Saya takut teman-teman saya di Jakarta akan melupakan saya. Saya takut pacar saya akan memutuskan hubungan kami karena masalah jarak dan waktu yang terlalu jauh dan lama, saya takut kehilangan semua yang telah saya jalani bersama dia selama ini. Saya takut kalau ternyata kepergian ini adalah keputusan yang salah. Saya takut pada banyak hal dan saya tidak tahu apapun yang akan terjadi nantinya saat saya tidak ada di Jakarta lagi.

Satu hal yang saya tahu pasti, siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, dan setakut apapun saya, saya harus berangkat. Tiket pesawat sudah dipesan, saya sudah cuti dari SMA Negeri 8, visa sudah di tangan, dan saya tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah mendukung saya selama ini.

9 September 2008, saya berangkat. Tentu saja saya menangis. Handphone saya tidak boleh dibawa.

jeudi 21 mai 2009

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman.. (part 2)

Dua bulan sebelum keberangkatan, saya bingung. Saya betul-betul bingung. Saya tidak bisa bahasa Perancis, namun saya juga tidak punya waktu untuk les bahasa Perancis karena sekolah saya menuntut hampir seluruh dari waktu saya untuk belajar dan belajar, saya sudah bilang saya bukan murid jenius. Saya belum siap untuk pergi. Saya tidak tahu kenapa saya harus pergi. Saya bahkan tidak tahu apakah saya sepenuhnya ingin pergi. Saya bingung. Sebenarnya, saya sendiri tidak tahu pasti apa yang saya bingungkan atau mengapa saya harus memusingkan semua ini. Bukankah semua yang saya dapatkan saat itu adalah sesuatu yang sangat indah, dan sudah saya inginkan sejak pertama ikut seleksi?

Kebingungan saya semakin memuncak di akhir kelas 2 SMA saya, saat surat cuti saya sudah didaftarkan pada pihak sekolah, saat saya sudah harus bolak-balik kantor AFS di Kebayoran untuk mengurus dokumen. Kepergian saya sudah hampir pasti, namun saya masih bingung dan resah.

Masa-masa orientasi sebelum kepergian pun dimulai. Saya, Adilla, Riri, Ajay, Nana, dan Hilfi, kami semua akan pergi melalui program AFS, kami dikumpulkan untuk membuat sebuah talent show untuk melepas murid asing yang akan pergi dari Indonesia, sekaligus sebagai debut kami dalam keluarga AFS. Pertunjukan kami berlangsung sukses, dan saya senang karena saya bisa mengenal dekat anak-anak yang tadinya saya tidak kenal dan saya tidak berani untuk dekati. Tenyata mereka tidak semenakutkan yang dulu saya pikir, harusnya saya dulu percaya diri saja untuk berkenalan dan bermain bersama mereka. Mereka semua sama seperti saya, mengapa harus malu? Saat pertunjukan kami usai, saya ingat, ada video yang diputar mengenai murid-murid yang akan pulang tersebut dan tahun yang mereka sudah jalani. Saya terharu, dan hampir menangis. Seorang dari kami berkata, “Gue jadi pengen cepet pergi nih.” Seorang lagi bertanya, “ Taun depan kita bakal kayak gini juga ngga ya?” Saya senang, penasaran, namun tidak tahu harus berkata apa, karena saya masih tenggelam dengan kebingungan dan keresahan saya. Bahkan saat orientasi nasional di akhir Juli 2008, saya masih bertanya-tanya tentang kepergian saya. Saya akui, saya memang menjadi lebih siap dan bersemangat untuk pergi, dan pembekalan serta pembelajaran yang diberikan saat itu sangat berguna bagi saya. Namun entah mengapa, masih tersisa keraguan di dalam benak saya yang belum teratasi.

Saya bertanya pada kakak-kakak yang pernah pergi, pada Dila, pada Elsa, dan pada Kak Elfi. Apakah yang akan saya alami akan sebanding dengan apa yang saya tinggalkan di Jakarta? Apa yang akan saya alami nantinya disana? Apakah saya bisa bahagia nantinya? Apa yang sebenarnya saya cari di Perancis? Apakah setahun di luar negeri itu sangat berharga sampai-sampai saya harus meninggalkan keluarga saya, zona nyaman saya, teman-teman saya, hingga pacar saya? Yang terakhir itu memang agak konyol, tapi saya kan hanya seorang remaja tujuh belas tahun, yang emosinya sangat labil dan terlalu membawa serius masalah percintaan, mungkin saya terlalu banyak membaca novel remaja atau menonton film drama korea.

kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman.. (part 1)

Kisah ini bermula bukan di Bandara Soekarno Hatta di saat saya memasuki pesawat menuju Kuala Lumpur, ataupun di saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Aeroport Charles de Gaulle Paris, namun jauh sebelum itu, sekitar satu setengah tahun sebelumnya, disebuah ruangan kelas XD SMA Negeri 8 Jakarta.


Hari itu beberapa kakak kelas datang ke kelas saya. Saya ingat, saat itu ada kak Amri dan kak Pamung dan mungkin ada kakak yang lain namun saya lupa siapa, yang masuk ke kelas saya,mempromosikan sebuah program yang telah mereka jalani, bersama sebuah organisasi bernama AFS dan Bina Antar Budaya. Mereka memperkenalkan diri dalam berbagai bahasa asing; bahasa Jerman, Inggris yang sangat lancar, dan Perancis. Terus terang saya terpesona, dan sepertinya mereka sangat bangga dan bahagia dengan apa yang telah mereka dapatkan setahun lalu di luar negeri. Saya ingin seperti mereka, dan walaupun saat itu saya belum tahu motivasi saya selain untuk 'coba-coba-siapa-tahu-dapat', saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di seleksi chapter Jakarta. Saya pergi ke Jalan Teuku Umar, dan mengambil formulir bersama teman-teman saya. Pacar saya saat itu sempat marah karena saya tidak memberitahu dia kalau saya mau ikut program seperti ini.


Akhirnya pada suatu hari minggu saya datang ke STBA LIA Pangadegan untuk seleksi pertama, Bahasa Inggris dan Wawasan Umum. Disana ternyata ada banyak sekali murid-murid dari seantero Jakarta, dan saya tahu peluang saya kecil untuk diterima kalau saingan saya banyak sekali, apalagi banyak wajah-wajah jenius yang saya lihat disana. Disaat orang-orang lain sibuk membaca koran bahkan RPUL untuk mempersiapkan diri mengikuti tes, saya malah sibuk mondar-mandir menyapa teman-teman lama yang saya jumpai disana. Saat tes berlangsung, saya bingung. Tes bahasa inggris terbilang membingungkan, tapi saya cukup senang karena ada bagian membuat essay karena saya suka menulis, dan akhirnya hasil essay saya sepertinya mirip dengan buku harian, panjang, namun saya lupa apa yang saya tuliskan dulu. Tes pengetahuan umum saya terbilang kacau, ternyata saya tidak tahu banyak hal! Mana saya tahu lagu Nidji yang jadi soundtrack Heroes di Asia, saya saja belum pernah menonton Heroes saat itu. Parahnya lagi, saya bahkan tidak tahu kalau Sekjen PBB sudah bukan Kofi Annan lagi melainkan orang Korea yang saya tidak tahu siapa namanya sampai sekarang. Tapi Tuhan sayang saya, karena saya lulus seleksi itu.


Saya lalu mengikuti seleksi-seleksi selanjutnya. Disekitar saya selalu ada orang-orang berpenampilan prestigius atau berwajah jenius, namun semua itu bukan masalah, karena saya saat itu bukanlah seorang yang ambisius. Namun sejatinya saat itu saya cukup rendah diri, karena orang-orang disekitar saya sepertinya mudah bersosialisasi, sementara saya terlalu pemalu untuk memulai percakapan dengan orang baru, mereka semua terlihat 'hebat' di mata saya. Saya tahu, pasti di formulir mereka tertulis banyak prestasi akademik maupun non-akademik, tidak seperti formulir aplikasi saya yang saat mengisinya saja saya bingung mau menulis apa. Saya cuma murid biasa yang dikelilingi murid-murid unggulan di sekolah saya yang unggulan pula. Tapi sekali lagi, ah tidak, berkali-kali lebih tepatnya, Tuhan sayang saya, karena saya lulus seleksi-seleksi tersebut.


Bulan puasa 2007, saya diberitahu kalau saya lulus tahap nasional. Saya senang, tapi saat itu saya belum sadar kalau apa yang saya dapatkan saat itu adalah sesuatu yang 'besar'. Saya lalu bertemu teman-teman yang lainnya di kantor Limau, saya masih rendah diri dan pemalu, saya sepertinya hanya bicara pada teman-teman yang sudah saya kenal saat itu, yang berasal dari sekolah saya; Tony, Nana, Ajay, dan Laudy. Anak-anak yang lain entah mengapa, terlihat begitu 'wah' dimata saya.


Ketika ditanya negara mana yang saya inginkan, yang terlontar pertama kali dari mulut saya adalah: “Amerika!” Ya, Amerika. Saya ingin sekali ke Amerika. Amerika adalah impian saya, mungkin saya terlalu banyak menonton film dan serial tv tentang kehidupan remaja di Amerika yang menakjubkan. Pilihan kedua saya adalah Perancis, mungkin karena di Perancis tinggal tante saya dan saya ingin sekali melihat menara Eiffel. Pilihan ketiga saya adalah Jerman, bukan karena saya sudah belajar bahasa Jerman di sekolah, melainkan karena saya ingin menonton pertandingan sepakbola disana dan melihat Oliver Kahn serta Miroslav Klose bertanding. Yang ada dipikiran saya saat itu adalah, setahun ke depan saya akan jalan-jalan, rekreasi, liburan panjang layaknya turis. Mana saya tahu kalau ternyata pertukaran pelajar ini bukan hanya sekedar jalan-jalan.


Saya tidak jadi ke Amerika. Saya dapat ke Perancis.